bahaya toxic positivity

Bahaya Toxic Positivity Menyamar Seolah Jadi Motivasi

Bahaya toxic positivity senantiasa selalu mengintai generasi milenial masa kini ibaratnya serigala berbulu domba, ia menyamar dalam bentuk motivasi. Mohon selalu berjaga – jaga terhadap ancaman ini apalagi jangan sampai kita menjadi salah satu pelaku pelontar kalimat toxic positivity.

Meski terlihat identik sama persis serupa, sesungguhnya terdapat jurang pemisah begitu kontras membedakan kedua kata tersebut dalam penerapannya sehari-hari. Memang betul, jikalau hanya memandangnya sekilas, tidak ada seorangpun yang sadar apakah itu merupakan sebuah motivasi sejati atau toxic positivity.

Bagaimanakah perasaanmu secara spontan manakala berhadapan sebuah kata bertuliskan ‘toxic’ muncul dalam benak jauh ke lubuk hati kecil rapuh kita? Ketika menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, sudah jelas artinya adalah racun, lebih tepatnya segala hal berbau serba beracun dan berpotensi membunuh.

Bahaya Toxic Positivity Menyamar Seolah Jadi Motivasi

Kata berikutnya sungguh berbeda 180 derajat bertabrakan namun memaksa untuk saling melebur, yaitu ‘positivity’ sekedar tameng untuk menyemprotkan racun setelahnya. Gabungan keduanya menciptakan makna baru yang cukup langka kita temukan pada zaman dahulu, namun prakteknya sudah lestari sejak dulu kala.

Masih jelas teringat lekat dalam ingatan penulis, tatkala menonton film garapan artis laga Hongkong terpopuler sedunia, Jackie Chan, Karate Kid. Terdapat suatu adegan memorable ketika anak Will Smith mendapat nasehat dari gurunya, Jackie, berbunyi ‘segala sesuatu yang berlebihan bukanlah kebaikan’.

Bahaya Toxic Positivity Punya Tingkat Destruktif Setara Bullying

Berkaca dari kata mutiara film tersebut, kalimat bernada membangun dapat berubah seketika menjadi racun mematikan saat kita mengonsumsinya berlebihan. Semuanya bermula dari sebuah pemikiran naif nan polos karena menganggap masalah kehidupan teratasi lewat kepositifan dan tidak boleh cacat.

Bahaya toxic positivity semakin terlihat jelas semenjak hitungan detik pertama kalian berusaha menerapkan pola pikir perfeksionis terhadap hal baik. Padahal sesungguhnya sangatlah mustahil seorang manusia selalu sempurna pada setiap kegiatan, karena kita adalah ‘gudangnya kesalahan’ berbanding terbalik dengan Tuhan.

Meracuni diri sendiri tanpa sengaja sering kita lakukan, bahkan ironisnya kita ikut membagikan penyakit tersebut ke orang tersayang sekitar. Ilustrasi paling mudah menggambarkannya yaitu pada saat bertatap muka dengan problem, kita mendadak over optimistis berkeyakinan pasti lancar penyelesaiannya.

Bahaya Toxic Positivity Punya Tingkat Destruktif Setara Bullying

Kata kuncinya adalah perhatikan bahwa tidak pernah ada hal pasti mutlak di kolong dunia selain daripada ketidak pastian itu sendiri. Sadarkah kamu, menderita kekecewaan sesekali diperlukan termasuk kesedihan kalau perlu sampai meneteskan air mata, sebab ia baik dampaknya terhadap psikologis.

Acap kali seorang insan manusia terjebak dalam permainan takut mengasihani diri sendiri, tragisnya justru ia kehilangan sisi manusiawi seperti Superman. Intermezzo sedikit, bukankah kita semua telah memahami bahwa pada akhirnya super hero terkuat sekalipun nasibnya ‘Superman Is Dead’?

Perbaiki Dari Hal Sederhana Seperti Belajar Menerima Diri Sendiri

Bagi kalian calon mahasiswa atau bahkan sedang menjalani pendidikan pada tingkat perkuliahan, camkan ini baik-baik ke otak anda. Jikalau ada teman nongkrong atau anggota keluarga meracunimu dengan mengatakan bahwa ijazah tidak penting, revisi sekarang juga sebelum terlambat!

Sisi kebenarannya tetap ada, yaitu untuk menggapai kesuksesan maka ijazah bukan menjadi faktor utama penentu keberhasilan baik bisnis maupun pekerjaan. Namun, tidaklah lantas seketika ijazah tak berharga dan hilang nilainya, karena selembar kertas itu mewakili segala perjuanganmu mengejar prestasi akademis.

Bahaya toxic positivity selanjutnya yaitu saat ada ungkapan berbunyi mengenai nasib tertimpa status drop out bukan hambatan menuju tangga sukses. Tahukah kamu? Faktanya, Mark Zuckeberg yang pernah mengalami DO sekalipun pada akhirnya berjuang mengulang kembali kuliahnya sampai lulus sarjana?

Bahaya Toxic Positivity Perbaiki Dari Hal Sederhana Seperti Belajar Menerima Diri Sendiri

Pendidikan bisa kita dapatkan dari platform manapun, apalagi memasuki era digital manakala remaja cukup meriset via Google, Wikipedia, atau Youtube. Lalu, apakah sekolah mendadak tidak berguna? Ingatlah, belajar di institut pendidikan memiliki keunggulan tersendiri yang tidak ada di internet.

Kabar baiknya, toxic positivity dapat segera kita tanggulangi asalkan segera mengobatinya secepat mungkin sebelum ia mendarah daging dalam mindset manusia. Jadilah manusiawi, berpikiran lebih realistis serta mengandalkan logika dan akal sehat jernih supaya tidak terjerumus dalam lembah toxic positivity.